oleh

Disbudpar Banyuwangi, Fasilitasi Seniman Muda Menggelar Pentas Virtual

KabarBanyuwangi.co.id – Ampiteater Tera Kota Gandrung, menjadi saksi ajang kreativitas seniman muda Banyuwangi. Melalui pentas seni virtual, dimaksudkan memberi ruang kreativitas bagi seniman. Tim Jiwa Etnic Blambangan (JEB) menjadi bagian dalam kegiatan tersebut. Berbagai sanggar dan komunitas dilibatkan dalam acara ini, mereka sangat senang mendengarnya dan menjadi solusi dalam pendemi ini.

Karya yang ditampilkan dalam acara ini, merupakan hasil karya sendiri dari JEB. Ada karya lain untuk mendukung acara ini, agar lebih meriah serta sebagai apresiasi seniman muda atas karya yang sudah ada. Seperti karya Catur Arum, lagu Janur Melengkung, karena sangat populer di Banyuwangi. Durasi yang dibawakan, kurang lebih satu jam setengah tanpa jeda.

Baca Juga: Masa Pandemi, Pemkab Banyuwangi Fasilitasi Seniman Tampil secara Virtual

Baca Juga: DKB Harus Lebih Terlihat Kerjanya di Mata Seniman dan Masyarakat

Alfian Kalfituloh, salah satu kordinator kegiatan, mengaku senang dengan adanya konser virtual oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, karena bisa mewadai kreativitas para seniman yang terdampak Covid-19. Mematuhi protokol yang ada, serta memberikan hiburan kepada masyarakat itu kebanggaan yang sangat luar biasa.

Panjak Milenial dari Jiwa Etnik Blambangan (JEB) saat pentas Virtual. (Foto: istimewa)
Panjak Milenial dari Jiwa Etnik Blambangan (JEB) saat pentas Virtual. (Foto: Dwi Muntaha)

Tohir, salah satu penari Jaranan Buto, mengaku selama kurang lebih 6 bulan tidak menerima job. Sehingga tidak bisa menyembunyikan saya senengnya, saat diajak bersama-sama terlibat dalam konser virtual. Menurutnya, ajang ini sekalgus sebagai pelampiasan rindunya untuk berkreasi dalam seni pertunjukan. Tohir berharap, acara semacam ini akan terus berjalan.

Kegiatan ini memberikan pengaruh besar bagi seniman khususnya. Suara tabuhan dari berbagai racikan yang dikolaborasi dengan musik etnik, membuat penonton menjadi tidak ingin berpindah tempat. Musik yang berbicara dalam fenomena, musik bergerak melalui angin yang bersiul menjadikan keindahan dalam alunan yang disajikan pada sore hari itu. Kendang tumpuan utama dalam mengolah dinamika. Suling sexophon dan suara gamelan yang menyatu membuat hati menjadi sejuk.

Salah satu tarian yang kami bawakan Tari Byalak, karya dari Miftahul Jannah, Sarjana Tari  lulusan STKW (Sekolah Tinggi Karawaitan Wilwatikta) Surabaya. Tarian ini, menggambarkan kesadaran penari dalam bergerak, serta mengulik tentang dunia mistis yang ada di Banyuwangi. Berlatar belakangi seni gandrung, karya ini mampu menginspirasi seniman muda dan masyarakat yang melihatnya.

Seniman Muda Banyuwangi yang terlibat pada Pentas Virtual. (Foto: istimewa)
Seniman Muda Banyuwangi yang terlibat pada Pentas Virtual. (Foto: Dwi Muntaha)

Di sisi lain, kegiatan pentas virtual ini sangat ringkas dan lebih efisien. Walau banyak dalam kegiatan virtual  (kurang efektif), terutama tata suara, atau sound dan perekaman gambar (audio-visual) saat live streaming, kurang terkontrol. Sehingga suara yang disaksikan lewat media sosial, sangat berlainan apabila melihat langsung saat pentas di lokasi. Namun, semua ini adalah upaya yang harus dilakukan, agar seni bisa berjalan dengan aman saat pendemi.

Moment yang paling penting dalam seni pertunjukan adalah penonton. Keriuhan dan tepuk tangan penonton, menjadi bagian puncak keberhasilan dari suatu pertunjukan. Seperti Jaranan, Janger, Mocoan, Kuntulan Caruk dan Gandrung, akan berbeda apabila tampil tanpa penonton.

Baca Juga: DKB Akan Pertemukan Kalangan Seniman Tradisional Dengan Seniman Santri

Bahkan  penonton menjadi tolak ukur keberhasilan suatu acara, mereka rela hadir dengan kondisi tempat atau acara yang sangat jauh sebagai upaya melihat secara langsung.

Kesan melihat secara langsung ini, beda jika melihat secara virtual. Apalagi secara fasif, kecuali menggunakan media Zoom yang bisa interaktif, termasuk dalam memberi tepuk tangan. Sambutan penonton apabila dirasakan langsung dengan media Zoom tersebut, tentu akan mempengaruhi jiwa penyajinya. Lewat media interartif, seakan-akan penonton dekat dengan penyaji, meski sebetulnya berjauhan temapt.

(Penulis: Adlin Mustika Alam, S.Sn, Ketua Komunitas Jiwa Etnik Blambangan – Singojuruh)