oleh

GURU BEDJO: Hadiah Hari Guru Nasional (HGN) 25 November 2020 dan Peringatan Hari Lahir PGRI ke-75

KabarBanyuwangi.co.id – Di gazebo modern yang tertanam kuat pada dua petak tanah kavling berpasir itu, guru Sholeh menyapa Mbah Bedjo, pensiunan guru belasan tahun yang masih sehat, energik, dan luas wawasannya. Usia boleh 79 tahun, tetapi senyum dan raut wajahnya tidak lepas dari simbol bahwa ialah guru yang mengabdi pada multi era, bahkan sepeda kumbang merk Ghazelle adalah lambang ia suka olah raga dan benda-benda bersejarah.

Guru Sholeh terus ikut arus cerita guru Bedjo, di gubug elit berukuran 2×2 meter itu. Teduh, indah, aman, edukatif, dan nyaman. Setelah berkeliling melihat tanaman buah durian, jeruk, belimbing, pisang segala jenis, pepaya, laos, lompong terong welut, kangkung, dan sungai kecil melingkar yang penuh segala jenis ikan, guru Bedjo memulai ceritanya.

“Pak Sholeh sejak kapan purna tugas?”.

“Wah saya sudah sejak Mei lalu Pak, tepatnya tanggal 20 Mei 2020. Sudah hampir setengah tahun nganggur Pak guru Bedjo”, jawab guru Sholeh seraya merunduk.

“Pak guru Sholeh, jangan pernah katakan Nganggur Pak, kita ini harus vitalitas dan dinamis agar tetap dirahmati Allah. Hidup jangan dalam tumpukan keluhan, usahakan tersiram oleh rahmat, hidayah, dan taufiq Allah SWT, itulah orang yang selalu bersyukur kepada-Nya.

“Masya Allah, Mbah Guru Bedjo. Terima kasih, telah mengingatkanku”, sela guru Sholeh serius dengan mata berkaca-kaca.

“Saya tidak mengingatkan, tidak juga menasihati, tetapi sekedar cerita ngalor-ngidul saja”, guru Bedjo merendah malu.

“Hingga usia pak guru Sholeh yang masih muda 60 tahun 6 bulan ini, apa pantangan bapak pada makanan?”, tanya guru Bedjo setengah membidik.

“Wah, saya sudah mengurangi santan, gorengan, emping, dan segala jeroan, rupanya asam urat dan kolesterol sudah bermasalah mbah”.

“Lho sebaliknya dengan saya, semua yang guru Sholeh sebut itu selalu saya makan sepekan sekali, termasuk ke sate Bagong di Cluring, Alhamdulillah tubuh tidak menolak tetapi uang yang kadang-kadang menolak keras, hah hah hah hah”, Keduanya terkekeh lebar.

Guru Bedjo ialah mantan kepala SDN 3 Yosomulyo, pernah menjadi atasan guru Sholeh kurang lebih 4 tahunan. Ia tegas pada prinsip, taat azas, disiplin, kerja tim juga solit, wibawa, nyungkani, bahkan anak buah yang masih GTT dan seorang PTT berhasil menjadi a es en.

Program green and clean dan sekolah adiwiyata berhasil diraihnya. Maka tidak heran jika kebun sekolah tak sekedar kebun-kebunan untuk pencitraan ketika lomba, tetapi kebun yang benar-benar menghidupi warga sekolah. Ada terong, cabe, sawi, bayam, kangkung jebol, brokoli, bahkan katu dan kelor ada di kebun sekolah.

Rupanya ada insinyur pertanian yang ngajar IPA di kelas 5 dan 6. Anehnya lagi, tak ada satu siswa pun yang bermain, apalagi berlarian di area kebun. Dari kelas satu hingga enam sudah berbudaya tertib dan disiplin di sekolah termasuk di rumah dan di lingkungan masyarakat. Inilah barangkali teladan insani dari guru Bedjo.

Obrolan ringan yang telah berlangsung hampir satu jam itu tak terasa lamanya, bahkan penuh berkah serta petuah yang bijak. Nuansanya seperti membangun fondasi regenerasi.

Seketika datang Kang Parmin, guru es em pe yang mencoba ikut ngrumpi. Ia tahu sepeda ontel cewek warna hitam buatan Royal Dutch Gazelle tahun 1909 itu, milik Mbah guru Bedjo. Saat ini harga ontel itu lebih mahal dibanding mobil Honda Brio terbaru.

Ia mengenalnya hampir duapuluh lima tahun silam, ketika guru Bedjo masih muda dan Parmin ialah muridnya yang nakal tetapi amat disayang kawan-kawannya lantaran ia jago MIPA dan duta sekolahnya dari kelas tiga hingga kelas enam. Ia memang sangat kutu buku, tak heran jika hingga kini ia berlangganan koran nasional Jawa Pos dan Kompas.

Sama, seperti guru Bedjo yang masih kutu buku dan kutu koran, bahkan kutu Alquran tanpa harus berkaca mata. Parmin pernah menggembosi kedua ban sepeda itu, beberapa jam setelah ia ditegur dan diajak ngobrol hampir satu jam tentang kesalahannya di ruang kepala sekolah Imam Syafii almarhum waktu itu,  karena terbalik bendera pusakanya saat tugas upacara rutin Senin, sekian puluh tahun yang lalu.

“Guru Bedjo telah menyakiti hatiku saat itu, hah hah hah………”kata Parmin seraya terbahak-bahak sendirian manakala mengingat masa kecilnya yang kocak.

“Assalamualaikum Pak Guru Sholeh, Assalamualaikum Mbah Guru Bedjo. Kok njanur gunung, tumben mbah Bedjo ngobrol dengan guru Sholeh?”, tanya Parmin seolah menyindir dan seraya menghampiri hand sanitizer yang dipasang rapi dengan wastafel dekat gazebo. Seketika ia melakukan tosh dengan semangat 45 kepada dua seniornya

“Ya Mas Permen, tak sengaja ini tadi, kebetulan saat saya sepedaan kok tampak pak guru Sholeh menyiangi kebunnya. Lantas aku mampir di sini. Bagaimana kondisi sekolahmu mas Parmin, konon kamu kan dekat dengan kepala dinas dan bupati?”, tanya guru Bedjo mantab.

“Begini mbah, saya kan hafal semua permen termasuk kepres. Maka tak heran kawan-kawan memanggil saya Permen bukan Parmin. Jadi itu saja modal saya, lalu dua tokoh pejabat itu simpati pada saya. Kebetulan saya juga guru berprestasi kabupaten dan tidak neko-neko kepada pengambil kebijakan, saya juga acapkali ngglibet kepada beliau-beliau meski ada kadis dan banyak pejabat menilai saya kurang sopan, saya nyantai saja dengan sarkasme mereka, macak katak tuli sajalah bagiku”.

“Lha mbok diusulkan, tiap SDN itu ditempatkan pns TU. Meskipun uji coba di SDN center dululah dan SDN pinggiran menyusul tahun depan. TU itu merangkap operator sekolah mas. Saya tahu mereka tidak gagap teknologi, bahkan melek lebar pada teknologi. Karena administrasi di es de bukan tugas kepala sekolah maupun guru-guru mas. Kepala Sekolah sekedar kerja managerial, kukira begitu, biar mereka ikut merasakan jadi pe en es itu rasanya gimana gitu Mas”.

“Mbah Bedjo, kemampuan APBD untuk ke arah itu menjadi pertimbangan sosial, toh juga harus ada loby ke pusat apakah rekruitmen cpns pns diijinkan?. GTT di SD SMP, SMA, SMK saja masih meluber mbah”, cerita Guru Parmin yang maniak Permen itu dengan panjang lebar.

“Oh ya kalau yang GTT tadi bagaimana mas?”, sela guru Sholeh.

“Ya pak guru Sholeh, dalam waktu yang tidak lama pemerintah akan membuka lowongan sejuta guru untuk sekolah-sekolah negeri dengan cara membuka rekruitmen guru kontrak berstatus pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) dengan gaji 4,06 juta dari Pusat dan tunjangan ditanggung Pemda, syarat usia 20-59 tahun, lulusan PPG bisa ikut seleksi (Jawa Pos, edisi Selasa, 24 November 2020 halaman depan).

Namun perlu diketahui, bahwa bulan Desember 2020 mendatang pemerintah masih akan menangani vaksin Covid-19 untuk dokter dan tenaga kesehatan secara nasional, dan  kita tentu tetap optimis atau yakin bahwa pendidikan kita saat ini memang bertumpu pada guru honorer, (menurut koran Kompas edisi Senin, 23 November 2020 halaman muka). Tentu sinergi pemerintah pusat dan daerah harus tetap tumbuh sehat, kukira pemerintah tak akan menutup mata dan telinga tentang nasib dan masa depan bangsanya.

“Wah, terima kasih Mas Parmin, cucuku GTT mapel produktif di SMK Kalibaru”, sela Guru Sholeh mantap.

“Dua tetanggaku bahkan GTT di SMPN Kalipuro. Putra dua kawanku yang lulusan PGSD UT Jember juga GTT di  SDN Kalipahit”, sela Parmin.

“Pokoknya kita suka sekali hingga penghujung tahun ini, semoga realitasnya nyata dan tidak hanya barangKALI”, kata guru Parmin optimis seraya mengakhiri celotehnya.

(Penulis: Suyanto, Guru Sastra Indonesia dan Humas di SMPN1 Genteng, staf Ahli Dewan Pendidikan Kabupaten Banyuwangi (2020-2025), Litbang Dewan Kesenian Blambangan (DKB) 2018-2023, anggota Asosiasi Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (AGBSI) Provinsi Jawa Timur 2017-2022, dan Anggota Komnas Pendidikan Provinsi Jawa Timur 2017-2022)