oleh

KH Hisyam Syafaat Klarifikasi Dominasi Blokagung Dalam Kancah Politik Banyuwangi

KabarBanyuwangi.co.id – Gerakan massif dari alumni Ponpes Darussalam, Blokagung dalam Pilkada Banyuwangi, membuat sejumlah orang kurang senang dan menganganggap Blokagung terlalu dianakemaskan. Bahkan saat Konsulidasi DPB PKB Banyuwangi di Ponpes Blokagung beberapa waktu lalu, Gus Hisyam langsung klarifikasi dan menjelaskan posisi Blokagung.

“Sejak awal, DPP PKB menghendaki dari Ponpes Blokagung ada yang dijadikan Calon Bupati. Awalnya Gus Munib sebagai bakal calon Bupati, sudah melalui persiapan demikian rupa. Namun pada akhirnya, DPP PKB telepon saya dan memilih Mas Yusuf yang dipasangkan Gus Riza yang kebetulan anak pertama saya,” jelas KH Hisyam Syafaat, ayahandanya Gus Riza yang juga Calon Wakil Bupati.
Baca Juga: Bawaslu Banyuwangi Belum Terima Laporan Beredarnya Spanduk Diduga Kampanye Hitam
Baca Juga: Terang Benderang Gus Munib Siap Menangkan Yusuf – Gus Riza

Kyai Hisyam yang pembawaannya kalem ini menjelaskan, alumni Blokagung sudah tersebar seantero Nusantara. Mereka ada yang menjadi Polisi, TNI, Pejabat mulai Kelurahan hingga kementrian, juga banyak yang menjadi Modin di daerah-daerah.

“Sementara di ranah ormas dan politik, 99 persen Nahdatul Ulama (NU) dan banyak yang menjadi Pengurus PKB. Jadi tidak heran, jika keputusan politik di Banyuwangi juga melibatkan Blokagung untuk mengambil peran secara aktif. Jadi semua ini mutlak keinginan orang luar, bukan keiinginan Blokagung,” tambah Kyai Hisyam.

KH. Hisyam Syafaar bersama Gius Riza Cawabub Banyuwangi,m serta Keluarga Besar Blokagung (Foto: Tim YuRiz)
KH. Hisyam Syafaat bersama Gus Riza Cawabub Banyuwangi, serta Keluarga Besar Blokagung (Foto: Tim YuRiz)

Kyai Hisyam kemudian menceritakan almarhum ayahandanya, KH. Mukhtar Syafaat Abdul Ghofur, pendiri Ponpes Darussalam Blokagung. Putra-putrinya ada 16 orang dari istri pertama dan 7 orang anak dari istri kedua, semua menyebar melakukan aktivitas keagamaan yang menjadikan Ponpes Blokagung besar seperti sekarang.
Baca Juga: Ipuk Apresiasi Kelompok Wanita Tani di Jambewangi Sempu

“Sawah ayah saya itu cuma 2,5 bahu, secara akal tidak mungkin cukup untuk menghidupi keluarga besarnya. Namun Bapak saya dikenal orang yang tawakal, serta masih tetap beramal sedekah jika mendapatkan rejeki tanpa mendahulukan keluarga. Alhamdulillah, anak-anaknya bisa mondok dan sekolah dan banyak yang sarjana. Apalagi cucu-cucunya, selain hafidz juga sarjan,” pungkas KH. Hisyam Syafaat. (sen)