oleh

MENYURAT WASIAT- Cara Anak Muda Cungking Merawat Warisan Budaya

KabarBanyuwangi.co.id – Adalah kenyataan yang sulit dipungkiri, jika banyak tradisi lokal di Indonesia yang punah atau menjelang kepunahan. Padahal tradisi merupakan unsur pembentuk identitas bangsa, yang menjadi pembeda karakter suatu bangsa dari bangsa lain dan sebagai jati diri bangsa. Tradisi secara sosial budaya dapat juga berlaku sebagai media perekat kesatuan dan pewarisan nilai kearifan lokal.

Oleh karena itulah, diperlukan upaya simultan dan sinergis antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, masyarakat dan perguruan tinggi dalam mengembangkan serta melestarikan tradisi lokal yang kita miliki. Salah satu kearifan lokal dalam tradisi masyarakat Osing, adalah ritus Nylameti Sawahe Buyut Cungking di Taman Nasional Baluran.

Ritual ini dilakukan bulan Muharam dalam kalender Islam, merupakan selamatan komunal yang diadakan di wilayah Taman Nasional Baluran. Wilayah Baluran, dipercayai sebagai sawah Buyut Cungking,  tempat ia dulu menggembalakan kerbau-kerbaunya.

Buyut Cungking atau Mas Wangsakarya, dalam kisah lisan yang berkembang di masyarakat Banyuwangi, merupakan sosok yang dimitoskan memiliki kemampuan spiritual, kesaktian dan daya linuwih yang tinggi. Berbagai mitos mengenai Buyut Cungking banyak dihubungkan dengan keberadaan kerbau di Baluran dan beberapa situs kuno yang masih bisa ditemui saat ini di belantara hutan Baluran.

Tim Penyusun Buku: "Nyelameti Sawahe Buyut – Ritual Komunal Masyarakat Adat Cungking di Baluran". (Foto: Istimewa)
Tim Penyusun Buku: “Nyelameti Sawahe Buyut – Ritual Komunal Masyarakat Adat Cungking di Baluran”. (Foto: Istimewa)

Buyut Cungking juga sering dikaitkan dengan penciptaan kiling (semacam kincir angin), yang saat ini menjadi salah satu ikon teknologi tradisional masyarakat Osing yang agraris. Nama Cungking disebut-sebut dalam naskah gancaran Babad Tawangalun (1826), sebagai tempat makam Mas Wangsakarya, seorang guru dari Pangeran Macan Putih, Prabu Tawang Alun.

Pesarean (makam) Mas Wangsakarya atau Buyut Cungking, saat ini menjadi salah satu situs yang dikeramatkan oleh masyarakat. Mas Wangsakarya atau Buyut Cungking adalah salah satu tokoh dalam epos perlawanan para Pangeran Blambangan terakhir di ujung timur Jawa, yang tercatat dalam larik-larik tembang Babad Tawangalun.

Beberapa situs di Baluran dipercayai sebagai situs yang berhubungan dengan Buyut Cungking, seperti Bekol, makam Buyut Lancing, Sumber Manting, dan sebagainya. Ritual tradisi ini, merupakan bagian dari warisan kebudayaan yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal amat berharga.

Namun demikian, pewarisan tradisi ritual beserta pengetahuan mengenai situs-situs yang melingkupinya, selama ini tidak pernah tercatat. Sebagai sebuah warisan budaya, dikhawatirkan tradisi ritual dan pengetahuan mengenai situs-sitis budaya tersebut pelan-pelan akan hilang. Oleh karena itulah, perlu dilakukan upaya pentrasmisian atau pewarisan, utamanya pada generasi muda sebagai pewaris budaya agar terjaga keberlangsungannya.

Selamatan di Bale Tajug Cungking, mengawali proses penyusunan buku. (Foto: Istimewa)
Selamatan di Bale Tajug Cungking, mengawali proses penyusunan buku. (Foto: Istimewa)

Pada pertengahan tahun 2020, para pemangku adat di Cungking beserta kaum muda Cungking,  menggagas pengumpulan data-data berkaitan dengan Buyut Cungking. Pengumpulan data itu dilakukan, sebagai bagian dari rencana penyusunan buku mengenai warisan budaya, tradisi, dan situs yang berkaitan dengan Buyut Cungking.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya, sebagai wahana pewarisan dan pemertahanan tradisi beserta pengetahuan lokal yang merupakan warisan leluhur komunitas etnik Osing, khususnya di Cungking, Banyuwangi. Rencana pembuatan buku “Nylameti Sawahe Buyut – Ritual Komunal Masyarakat Adat Cungking di Baluran”, sudah mulai proses pengerjaannya sejak dua bulan lalu.

Mudah-mudahan, segala sesuatunya diberikan kemudahan dan kelancaran. Amin.

(Penulis: Wiwin Indiarti – Dosen dan Peneliti Budaya dari Universitas PGRI Banyuwangi)